| Rahmayu Attri Murni,M.Pd |
Setiap kita tentu mengetahui betapa
banyak jasa dan pengorbanan yang diberikan oleh seorang guru terhadap
muridnya. Berkat kiprah seorang guru, sebuah bangsa mampu menjadi maju.
Berkat peran guru pula, suatu negara menjadi lebih bijaksana dan
berbudaya, karena usaha guru para tunas-tunas muda mendapatkan
kedewasaannya dalam menjalani kehidupan mereka. Peranan dan kiprah itu
adalah sebuah amunisi dalam negara dan bangsa. Peran serta guru adalah
bukan partisipasi minim hasil, akan tetapi justru peranan utama dalam
mengemban cita-cita sebuah kata merdeka.
Guru adalah pendekar bangsa, meretas
kebutaan dan kegelapan dalam sebuah masa demi generasi yang kelak akan
cerah masa depannya. Bukan lagi hambatan dan rintangan dalam memberikan
pengajaran yang diperhitungkan oleh para guru, akan tetapi sebuah nilai
pengabdian, kesabaran, tanggung jawab, dan perhatian yang lebih menjadi
titik temu mengapa seorang guru mau untuk berjibaku menaklukkan medan
dan kenyataan dalam sebuah keadaan yang menyulitkan sekalipun.
Siapapun kita, tentu wajib menghormati
jasa guru, sebab dengan tangan-tangan mereka, seorang manusia mereguk
pengalaman, menjadi para pimpinan, meraih kebahagiaan, dan menetapkan
kedewasaan. Bakti guru terhadap negeri akan terus ada dan mengalir
hingga dunia menutup seluruh muaranya.
Menjadi Guru Idaman
Mungkin sudah banyak diantara kita
memahami dan mengerti akan jasa setiap guru. Banyak buku dan media-media
pembelajaran yang telah kita reguk untuk mendapatkan ilmu serta
pengalaman berharga. Menjadi guru ialah soal ketulusan dan kesadaran.
Panggilan-panggilan itu senantiasa hadir demi menjadikan sosok-sosok
guru sebagai teladan serta panutan.
Hampir di seluruh penjuru negeri ini,
setiap institusi dalam sebuah provinsi menggelar pendidikan untuk
jenjang sebagai tenaga pengajar atau yang erat kaitannya dengan
ilmu-ilmu kependidikan. Banyak sudah fasilitas-fasilitas untuk
menciptakan guru disediakan oleh pemerintah negeri ini, antusiasme
mereka dalam memajukan bangsa melalui pendidikan adalah pilihan yang
sama sekali tak ada kesalahan di dalamnya. Buku-buku bertema pendidikan
dan pengajaran dari level sederhana hingga tingkat luar biasa tersedia
dengan mudah di berbagai media ruang. Tingkat pendidikan untuk jenjang
ini disediakan hingga tak ada gelar lagi selain pakar. Kompetensi,
kompetisi, dan kualifikasi diujikan untuk mendapatkan tenaga pengajar
dan pendidik sesuai dengan tingkat penguasaan tertentu dan di fasilitasi
secara total oleh pemerintah. Sungguh berbahagia tentunya menjadi
seorang guru. Jasa dikenang, bakti diteladan, cinta disimpan.
Akan tetapi, perjuangan menetapkan
nilai-nilai ideal belum mendapatkan hasil apabila tidak dilanjutkan
untuk menjadi sosok idaman. Standarisasi menghasilkan tenaga pendidik
ideal seringkali dilakukan, akan tetapi standarisasi menjadikan guru
idaman hingga kini belum ditemukan format formulanya. Sebab menjadi guru
idaman ialah soal menyenangkan, menenangkan, dan memenangkan.
Seorang guru idaman itulah potret guru
penuh dengan penerimaan.dalam hal menyenangkan, mereka selalu berusaha
untuk menjadikan murid sebagai sosok-sosok penuh harapan di masa depan.
Memberikan pengajaran tanpa jemu dengan reaksi-reaksi hasil menyenangkan
dari muridnya. Bukan berarti pembelajaran menjadi tak efektif sebab
hanya bersenang-senang saja. Akan tetapi justru pembelajaran yang
dihasilkan ialah pembelajaran penuh inspiratif. Siswa belajar tanpa
tekanan, dan siswa memiliki banyak imajinasi dan penggambaran. Dalam hal
ini seorang guru bukan lagi sebagai sosok menakutkan dengan membawa
mistar kayu panjang, atau membawa pukulan terbuat dari bambu. Guru
justru datang dengan banyak ide dan gagasan yang siap untuk mendapatkan
penerimaan dari setiap siswanya.
Guru idaman adalah sosok menenangkan,
mereka sadar bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi. Kegagalan
memiliki konsekuensi, keberhasilan pun demikian. Sehingga memacu setiap
guru untuk tenang adalah tugas penuh konstan. Ketenangan adakalanya
terusik dengan ganguan-ganguan dari luar maupun dalam diri guru itu
sendiri, ketenangan adakalanya kalah dengan gejolak emosi yang berasal
dari lingkungan. Akan tetapi begitulah seni dari ketenangan, ia harus
dipertahankan. Sebab apabila seorang guru mampu menampilkan sosok dengan
penuh ketenangan, kelak setiap siswa akan menghargai, mengikuti, dan
meniru apa yang diperbuat. Kebanyakan problem besar muncul adalah bukan
karena masalah itu besar, akan tetapi problem itu muncul karena bisa
jadi seseorang tidak memiliki jiwa-jiwa penuh dengan ketenangan dalam
menghadapi setiap persoalan. Sehingga untuk menjadi guru idaman, bakat
dan kompetensi saja tidak cukup, sebelum dilengkapi dengan ketenangan
yang akan menjadikannya siap menghadapi berbagai macam rintangan dan
keberhasilan.
Seorang guru idaman akan senantiasa
memenangkan hati setiap muridnya dalam keadaan apapun. Dalam posisi ini
setiap murid adalah sosok penting, setiap murid memiliki andil dan peran
sama dalam kelas maupun lingkungan sosialnya, dalam keadaan ini setiap
siswa memiliki kesejajaran. Guru yang memenangkan, ia tidak pernah berat
sebelah, membedakan murid dalam mendapatkan pengajaran, apakah ia
cerdas atau tidak, berasal dari keluarga kaya maupun miskin, meskipun
yatim ataupun pengusaha, dhuafa atau pegawai swasta orangtuanya. Tidak,
akan tetapi guru yang memenangkan hanya memiliki satu indikator
kemenangan dari muridnya. Yakni setiap murid menjadi apa yang mereka
inginkan ketika mereka telah dewasa nanti dan melakukan apapun untuk apa
yang mereka inginkan tersebut dengan sebaik-baiknya. Begitulah guru
yang senantiasa memenangkan hati setiap muridnya, mereka berdiri untuk
sebuah sejarah di masa mendatang. Guru-guru tersebut ada hari ini, untuk
anak-anak masa depan. Sehingga bagi seorang guru dengan karakter
senantiasa memenangkan muridnya, kata kesulitan sudah terhapus dalam
kamus hidupnya berganti menjadi ketulusan.
Memberikan Pembelajaran Optimal
Guru kini tidak hanya cukup bermodal
dengan gaya mengajar tradisional dan konvensional, seorang guru dituntut
untuk memberikan pembelajaran penuh visi disertai pengembangan strategi
sesuai dengan tuntutan lingkungan serta kondisi jaman. Pola
pembelajaran atas bawah sebagaimana layaknya komandan dengan prajurit
mungkin dinilai sudah tak lagi relevan dengan keadaan hari ini.
Pendidikan egaliter atau penuh dengan kesetaraan menjadi tuntutan yang
harus disegerakan. Sebab setiap anak hari ini adalah anak-anak yang
berbeda zamannya dengan seorang guru kini. Maka, langkah praktis adalah
bukan lagi bagaimana seorang anak mengikuti gurunya, akan tetapi
bagaimana seorang guru dapat menyejajarkan posisi dengan muridnya pada
beberapa keadaan tertentu di sebuah proses pembelajaran. Model-model
pembelajaran terus mengalami kemajuan secara kontinu, evolusi dari
setiap formula di uji coba dengan eksperimen-eksperimen sederhana untuk
mendapatkan kualitas pembelajaran optimal dan hasil pendidikan maksimal.
Untuk mendapatkan pembelajaran optimal
dibutuhkan sumberdaya, alat, media, serta pendukung-pendukung lainnya.
Dengan terpenuhinya hak-hak dasar pendidikan tersebut, kelak setiap guru
akan mampu mengembangkan metodologi pembelajaran dengan hasil maksimal.
Tidak lagi guru merasa sulit untuk menerangkan pelajaran bersifat
eksakta apabila laboratorium IPA terpenuhi dengan alat peraga, tidak
lagi guru kesulitan untuk melakukan observasi kondisi sosial pada
pelajaran IPS apabila perlengkapan untuk terjun ke lapangan sudah
memiliki kemampuan dan pengalaman, tidak ada lagi guru yang kesulitan
mengucapkan tatabahasa serta aksara bila laboratorium bahasa diberikan
dukungan secara maksimal. Seorang guru adalah seorang regulator yang
menghubungkan medium-medium alat dengan objek pendidikan. Oleh karena
itu, pemerintah diharapkan mampu memberikan dukungan maksimal demi
majunya pendidikan di Indonesia.
Hasil-hasil maksimal yang didapatkan oleh
para siswa bukan hanya sekedar nilai-nilai akademis semata, akan tetapi
hasil-hasil dari pendidikan ialah terkait dengan kecakapan hidup, pola
pikir anak didik, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, serta memiliki
karakter yang baik serta luhur budi pekerti. Tujuan-tujuan itu pula yang
menjadikan Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan misi untuk sebuah
kecerdasan dan kebaikan karakter.
Peranan guru juga dituntut untuk
menghadirkan pembelajaran interaktif dan mampu mengasah daya kritis
setiap siswanya. Hal ini juga merupakan hasil dari metodologi pendidikan
yang baik dan tepat guna. Untuk mendapatkan hasil tersebut, tak salah
bila kita mengutip prinsip dari pakar Quantum Teaching yakni
Bobby de Porter terkait bagaimana menerapkan pola pembelajaran kreatif
bagi siswa untuk mendapatkan hasil yang dibangga nantinya. Falsafah
prinsip tersebut terimplementasi dalam rancangan kurikulum yang ia buat
untuk diterapkan di SuperCamp miliknya, dengan tujuan belajar adalah
sebuah proses menyenangkan, maka tiga unsur pendukung harus disertakan,
yakni keterampilan akademis, keterampilan dalam hidup, dan
tantangan-tantangan fisik (Bobby de Porter, 1992).
Unsur-unsur tersebut relevan untuk
diimplementasikan di Indonesia. Sebuah negara yang memberikan kebebasan
dalam menentukan format dan ide-ide pendidikan. Sudah saatnya anak-anak
muda di Indonesia diberikan bekal pendidikan sesuai dengan tingkat
kemampuannya, paradigma pendidikan dasar yang elementer seperti agama,
moral, dan kecakapan hidup tetap menjadi utama. Jika demikian, suksesi
dari kesemua itu ialah terwujudnya cita-cita pendidikan yang tertuang
dalam amanat dasar negara Indonesia.
Tuntutan untuk memberikan pembelajaran
optimal dengan hasil maksimal ialah proses penyesuaian dari sebuah
efektivitas pembelajaran. Model-model yang kaku, jenuh serta menegangkan
menjadi sajian sepi manfaat dan sarat tekanan. Kreatifitas dalam
mengemas ide-ide pembelajaran kini menjadi sesuatu yang dituntut oleh
para guru. Bagaimana caranya agar ide-ide murid memiliki kesesuaian
dengan ide para pendidik. Bagaimana psikologi dapat dijadikan sebagai
sebuah rumusan identifikasi, bagaimana imaji dapat menjadi sebuah nilai
tatanan potensi. Semua itu terpusat dalam sebuah kerja-kerja kreatif
yang dilakukan oleh seorang guru.
Dari awal, setiap guru harus memahami
bahwa ia adalah lakon bagi banyak kerja-kerja profesi. Seorang guru
adalah aktor kala memerankan pembelajaran penuh dengan konsentrasi
utama, seorang guru juga dokter kala muridnya terluka dalam sebuah
istirahat di sekolah, seorang guru adalah supir dikala anak didiknya tak
kunjung dijemput, seorang guru adalah teknisi dikala salah satu alat
tulis milik muridnya rusak, dan seorang guru pun kadang dapat bertukar
jenis kelamin kala guru wanita secara sontak naluri mengerjakan
pekerjaan pria dan sebaliknya. Kerja-kerja kreatif adalah kerja-kerja
memukau, guru adalah sosok yang from possible to be impossible.
Lantas bagaimana menyajikan agar
bayangan-bayangan implementasi kreatif tersebut hadir ditengah
pembelajaran, Bobby de Porter mengejawantahkan formulanya dalam buku
fenomenalnya, Quantum Learning. Pertama, ingatlah sukses-sukses anda di
masa lalu baik yang biasa maupun yang menakjubkan, kedua yakinlah ini
dapat menjadi terobosan, ketiga latihlah kreativitas anda dengan
permainan mental, keempat ingatlah bahwa kegagalan membawa keberhasilan,
kelima raihlah impian dan fantasi anda, keenam biarkan kesenangan
memasuki kehidupan anda, ketujuh kumpulkan pengetahuan dari tempat lain,
kedelapan pandanglah situasi dari segala sisi, kesembilan bersihkan
pikiran anda dari asumsi-asumsi, dan terakhir ubahlah posisi anda
sesering mungkin.
Jika pembelajaran kreatif telah menemui
muara maknanya, mengharapkan siswa menjadi figur-figur yang kritis dan
pembelajaran interaktif pun otomatis akan dicapai dengan sendirinya.
Namun jika guru masih menempatkan posisinya pada usaha-usaha stagnan
dari jaman lampau dan di modifikasi hanya sebatas penyesuaian. Yakinlah,
hal demikian hanya akan menihilkan usaha yang telah dibangun lama dalam
sebuah bangku-bangku sekolah.
Menakar Efektifitas Pembelajaran
Pembelajaran interaktif sebagai usaha
awal menghadirkan pola pikir kritis tidak dapat muncul dengan
sendirinya. Selain usaha-usaha kreatif diatas, pembelajaran interaktif
hadir dengan memperlakukan para manusia didik sesuai dengan kondisinya,
bukan dengan dilema atau bias belajar. Oleh karena itu dibutuhkan guru
yang mampu mengajar secara efektif.
Guru yang efektif adalah mereka yang
selalu memperdalam keahliannya dalam pengajaran agar pengajaran yang
dilakukannya bermanfaat untuk murid luar biasa yang dididiknya.
Keefektifan para guru dapat dilihat dalam dua aspek, yaitu banyaknya
tujuan pembelajaran yang dicapai oleh murid dan pola pengajaran yang
berhubungan dengan pembelajaran seperti waktu, tenaga, dan usaha yang
dicurahkan oleh guru. (Jamila, 2005).
Dari keefektifan pengajaran maka akan
menunjukkan guru yang mengajar adalah orang efisien dengan ciri-ciri
sebagai berikut; mempunyai kemandirian yang tinggi, mempunyai pendidikan
yang baik, mempunyai pengetahuan dan minat dalam bidang yang diajar,
memahami prinsip dasar dalam proses pembelajaran, mementingkan
keberhasilan murid, bersikap adil, menjelaskan suatu hal dengan
terperinci dan jelas, berpikiran terbuka, menyenangkan murid,
menggunakan teknik dan metode pengajaran yang efektif, dan dapat menjaga
jalannya proses pembelajaran dalam kelas. (Olivia & Henson, 1980
dalam Jamilah, 2005).
Sudah saatnya pembelajaran efektif
dikemukakan, efektif dan kreatif menjadi penghubung temu dengan
interaktif secara positif. Suasana akrab dapat tumbuh, kondisi hangat
dapat terus bertambah, serta apapun yang diurai serta dipaparkan oleh
seorang guru tentu akan mendapat penerimaan penuh dari para murid.
Menjadi guru interaktif adalah menjadi guru yang mampu meramu rencana,
dan menyaji cara. Semua di dasarkan pada instink dan feeling guru tersebut dalam melakukan pola pikir bijaksana untuk dianalisa dan di kritisi oleh para siswa.
Jangan harap, pola pikir kritis dapat
hadir jika seorang guru tak bijaksana di depan para muridnya. Jangan
harap pola pikir kritis dapat ada jika para guru masih bergaya
menjemukan layaknya para penjaga kuburan dengan pacul dan sekop ditangan
dan tugas yang tak pernah ada perubahan. Guru merupakan sosok
multitalenta, banyak cerita dengan seduhan tawa, duka serta lara untuk
memompa semangat juga inspirasi, dan banyak memberi makna bagi para
siswa.
Bagaimana Nabi Mengajarkan Sahabat
Berbicara soal pembelajaran interaktif
dan pola pikir, ada baiknya bila diakhir tulisan ini mengetengahkan
bagaimana seorang Nabi Muhammad sebagai tokoh nomor satu paling
berpengaruh di dunia memberikan pengajaran dan pembelajaran. Sejatinya
apa yang beliau lakukan ialah berasal dari bimbingan wahyu. Sehingga
perbuatan, ucapan, dan tindakan beliau adalah postulat mutlak yang tak
membutuhkan aksioma untuk meruntuhkannya. Dalam pembahasan terakhir ini
akan diketengahkan bagaimana sosok Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengajaran terhadap sahabatnya, yang semoga dapat menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita yang hari ini ingin menyajikan pembelajaran interaktif dan penuh dengan asahan pola pikir kritis siswa.
Beliau memberikan pengajaran sesuai
dengan keadaan dan dengan siapa pelajaran itu diberikan, hal ini agar
mendapatkan hasil yang baik dan dapat dipahami oleh setiap mereka yang
menghadiri majelis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu
tatkala para sahabat Nabi bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan
melihat Rabb kita pada Hari Kiamat?” Rasulullah bersabda, “Apakah
kalian mendapat gangguan ketika melihat bulan di malam purnama?” Mereka
(para sahabat) berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi,
“Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat matahari yang tidak
tertutupi awan?” Mereka berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau
bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihatNya seperti yang demikian
itu. Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat dan berfirman,
‘Barangsiapa yang menyembah sesuatu, maka hendaklah mengikutinya…-dan
seterusnya-.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Ad Darimi).
Begitulah pembelajaran yang dilakukan
Rasulullah terhadap para sahabatnya, benar-benar menampilkan pola
pengajaran penuh interaktif dan memberikan keleluasaan untuk mengajak
para sahabat berfikir dan menggali lebih dalam wawasan yang mereka
miliki. Nabi bukanlah sosok yang mudah untuk menyalahkan seseorang, akan
tetapi beliaulah sosok yang justru senantiasa sabar membimbing dan
mendampingi para sahabat-sahabatnya yang kala itu menjadi murid beliau.
Hal tersebut pun ditiru oleh para sahabat tatkala mereka memberikan
pengajaran kepada murid-murid mereka dikemudian hari.
Salah satu hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
yang menyajikan pola pikir kritis dari para sahabat selaku murid beliau
serta menghadirkan pembelajaran interaktif adalah sebagaimana yang
diketengahkan oleh hadits melalui jalur periwayatan Abdullah bin Dinar,
dari Abdullah bin Umar, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda, “Di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak jatuh
daunnya dan dia seperti orang Muslim, beritahukan kepadaku pohon apakah
itu?” maka orang-orang langsung teringat kepada jenis pohon yang ada di
pedalaman. Abdullah bin Umar berkaa, “Maka terbetik di hatiku bahwa
pohon itu adalah kurma, namun aku merasa malu.” Kemudian mereka berkata,
“Beritahukan kami pohon apa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,
“Dia adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi).
Tekhnik pembelajaran yang benar-benar
memberikan hiburan dan mampu mengajak setiap orang yang hadir secara
seksama menuangkan apa yang diketahuinya. Tidak memainkan satu peran
pembelajaran, tapi komunikasi dua arah diketengahkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan pelajaran bagi para muridnya.
Penutup
Metode pembelajaran untuk memberikan
nuansa interaktif dan mampu mengasah pola pikir kritis anak didik takkan
terwujud bila setiap guru tidak memahami perencanaan, cara, dan hasil
yang diinginkan dari pembelajaran yang dilakukan. Untuk menjadikannya
demikian dibutuhkan pengajaran efektif serta kreatf sebagai bekal utama
dan dilanjutkan dengan pengembangan model-model pembelajaran. Hal
tersebut diupayakan agar mendapatkan hasil maksimal untuk kemajuan
bangsa secara umum dan secara khusus menjadikan pendidikan lebih
bermutu, berbudi, berkarakter, dan memiliki cita rasa tinggi. Kedepan
dibutuhkan sebuah satuan standar mutu untuk menjadikan sosok guru bukan
hanya ideal, akan tetapi idaman dengan berpijak pada dasar menyenangkan,
menenangkan, dan memenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar